"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Selasa, 16 September 2014


~Sebuah usaha mempositifkan Aceh dari kutub negatif~
Mencintai Aceh ibarat mencintai seorang gadis yang sebelumnya harus kita rebut dari pacarnya yang bengis. Inilah cinta --yang jika dinovelkan atau difilmkan-- barangkali, memiliki plot yang sangat berdarah-darah. Cinta kepada Aceh adalah cinta yang sama sekali tidak kita dapatkan secara gratis. Dalam ketidakgratisannya, cinta untuk Aceh harus kita tebus dengan harga tinggi. Nyalak senjata dan permainan politik tingkat tinggi yang dari Jakarta sana tangan kuasanya selalu siap meucuca. Itu tidak lagi ditambah dengan tangan-tangan cabul milik ureueng Aceh sendiri khusus yang kerjaannya melulu meraup untung di air keruh.  

Dari ke-Artjeh-an itulah konstruksi kecintaan kami terbangun. Walau sama sekali tak ada jaminan bangunan ini akan selamanya mengukuhkan diri tegak di atas kecerewetan sikap politik siapa saja yang tak tahan menunggu giliran untuk berkuasa. Artjeh juga tumbuh dari luka lama yang tak kunjung sembuh. Juga mekar dari rasa takut yang terus menggelayut di benak yang ciut.  

Artjeh adalah kesadaran estetik. Meski tak ada dasar filosofis yang melatari lahirnya sebuah sikap. Namun, semua ini diberangkatkan dari kesilaman Aceh yang penuh dengan ketidakmenentuan. Politik jelas dominan mengambil peran dalam membentuk kesadaran kami bahwa, mencintai Aceh adalah menyelamatkannya dari tindak penipuan induk semangnya di Jakarta sana. Dan di antara pengaruh permainan politik yang dominan itu, kami juga sadar bahwa, mencintai Aceh adalah seni yang tak terjabarkan oleh suatu karya artistik apa pun. 

Usaha mengangkat kembali simbol-simbol buruk atas kecintaan kita terhadap negeri sendiri tanpa harus membusung-busung dada dengan superioritas sejarah gemilang masa lalu sembari merapal besar-besar ungkapan serupa; "Nanggroe Aceh, nanggroe teu leubeh ateueh rueng donya," adalah pelajaran yang selalu ingin kami tampilkan dalam bentuk karya seni apa pun. Darinya kami sepakat untuk mengekalkan ingatan tentang perihal-perihal buruk yang pernah berlaku di sini. Lambang hati yang mengibaratkan ungkap kecintaan, kami bubuhi simbol-simbol zaman buruk yang memang agak sengaja dikesankan bernada traumatik di dalamnya. Yaitu, perihal buruk semisal brutalnya aksi tentara masa konflik dan akibat-akibat yang timbul karenanya. 

Bukankah kesan yang ditampilkan ini malah akan menimbulkan luka lama? Bisa jadi iya, atau boleh jadi sebaliknya. Tapi kami yakin, memelihara luka dengan simbol-simbol ingatan dalam sebuah karya dan kemudian memahaminya dengan akal waras adalah sama halnya dengan membaca sejarah seobjektif mungkin. Sehingga kita yang tinggal sekarang bisa menentukan sikap bijak untuk menentukan mau diarahkan kemana masa depan kita nantinya. 

Pada tahap tertentu, kami mengangguk setuju, ketika seorang teman mengambil kesimpulan setelah mengerti betul tentang usaha yang digagas dengan cara merangkak sejengkal dua jengkal ini sebagai usaha mempositifkan Aceh dari kutub negatif. "Ya, untuk desain ini. Kami ingin mengekalkan ingatan atas perihal buruk yang pernah berlaku untuk dijadikan pelajaran. Dan benar adanya jika disebutkan ini adalah usaha mempositifkan Aceh dari kutub negatif."[] 


0 komentar:

Posting Komentar