"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Rabu, 10 September 2014

"Percayakah tuan bahwa suara klakson truk mobil tentara di kampung kami, yang biasanya dibunyikan dengan riuh dan riang ketika hari menjelang petang tatkala gerombolan serdadu itu pulang ke kandang, menyimpan riwayat tentang bagaimana kepatuhan juga penaklukan beroperasi di ruang-ruang publik di Aceh?" ~ Azhari, Hikayat Klakson Di Serambi Mekkah

Tentang bagaimana kepatuhan juga penaklukan --mengutip quote di atas-- beroperasi di ruang-ruang publik, barangkali, semua yang pernah menarik nafas dan selamat hidup pada zaman konflik di Aceh punya pengalaman masing-masing untuk hal tersebut. Kepatuhan adalah wajib. Sebagai syarat jika ia tulus ikhlas ingin selamat.

Pun dari situ, dengan sadar setelah patuh sedemikian rupa, orang-orang tahu bahwa penaklukan telah dilakukan dengan terorganisir oleh negara untuk sebuah daerah bergejolak bernama Aceh. 

Dulu, ketika perlawanan sekelompok rakyat menuntut merdeka sebab tidak adanya keadilan disambut dengan brutal oleh negara. Aceh yang sekitar tahun 1980-an berjuluk Daerah Istimewa, dengan tuntutan merdeka tadi, oleh negara ditambahi keistimewaannya lagi dengan Daerah Operasi Militer alias disingkat dengan kata DOM. Itu berlangsung sekitar 10 tahun, dari 1989-1998. Tapi gelar yang telah menghilangkan nyawa puluhan ribu rakyat Aceh ini kelak dianggap belum cukup. Operasi Militer harus berlanjut. Hingga pada 18 Mei 2003 Aceh disahkan dengan istilah DM (baca: Darurat Militer. Bukan Diabetes Mellitus). 


Maka dari istilah DOM sampai DM, kita rakyat Aceh terlibat dalam nuansa kepatuhan yang berujung pada penaklukan secara sepihak kepada mesin perang yang dikirim negara ke segala penjuru kampung. Khusus pada masa DM, salah satu bentuk kepatuhan itu adalah dengan (wajib) memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbeda dengan KTP daerah lain. KTP Merah Putih. 

Narasi yang dikisahkan dari KTP Merah Putih sama mendebarkan dengan dongeng yang dilisankan seorang nenek tentang marahet yang mencari kepala anak kecil untuk tumbal pemancangan pilar-pilar jembatan. Pada masa ini, kau tidak akan senyenyak tidur para jenderal tentunya. Menjadi orang dan tinggal di Aceh pada malam-malam yang kerap berisik dengan salak senjata adalah menjadikan diri seolah-olah patung yang sama sekali jauh dari kecut, ciut dan tak butuh selimut. 


Aceh dalam nuansa militeristik kala itu tak terdefinsi hingga sekarang. Ingatan kita tak cukup ruang untuk menyimpan kenangan tentang KTP Merah Putih yang besarnya hampir seperempat kertas kwarto. Sehingga untuk memudahkan dimasukkan dalam dompet harus dilipat dua. 

Ini adalah KTP khusus. Di bagian terluar, warna merah putih dengan logo burung garuda lengkap dengan bubuhan isi Pancasila di bawahnya, yang jika seorang dari luar daerah melihat sekilas tampilannya akan bergumam dalam hati: "O, inilah orang-orang dari negeri pembangkang itu."

Sementara bagian dalamnya terdapat keterangan data personal pemilik yang ditandatangani dan distempel basah tiga penguasa kecamatan: Camat, Kapolsek, dan Danramil. Tiga bubuhan tandatangan ini adalah bukti betapa KTP jenis ini benar-benar 'keramat' bagi pemiliknya. Keramat dalam artian kertas inilah yang membuat seseorang (lazim) selamat hidup ketika sweeping atau penyisiran dilakukan sampai ke kampung-kampung terjauh. 

Maka untuk narasi panjang yang mengenaskan begitu rupa, kita butuh museum atas apa yang pernah kita deritai. KTP Merah Putih, jam malam, Pos jaga, jalanan zig-zag yang di kawat-kawat berdurinya kerap tertempel amaran: Pelan-pelan Di Depan Pos Koramil atau 15 Km/Jam! Namun, siapa yang siap nanahnya dipamerkan pada khalayak? 

Museum mungkin saja dihadirkan, tapi, nasib masa depannya bisa dengan mudah ditebak. Dibangun megah, menghabiskan anggaran yang nilainya setara dengan harga pembangunan ribuan rumah sederhana para dhuafa, kemudian hanya berujung pada kenyataan: Ada tapi tetap bisu sepanjang sejarah berdirinya. 

Geulanceng meluangkan ruang untuk menyimpan kepingan atas teks sejarah yang tak lagi utuh. Kami memulung pecahan sejarah dari mana saja. Dari artefak yang berkarat dalam pikiran orang-orang yang masih trauma, seakan baru kemarin petang mukanya digampar tentara sebab tanpa sengaja melirik ke pos di pinggir jalan. Dari warta dari para pengabar yang mendapat informasi satu pintu dan data resmi penguasa. Semuanya terjalin sulam di atas kesadaran sejarah yang mulai meluntur di tengah kekuasaan yang tingkah para pejabatnya makin hari kian membuat kepala sakit sebelah. 

Usaha memuseumkan potongan-potongan sejarah yang hampir dilupa dalam desain baju adalah sama kerasnya dengan usaha kami mencari siapa tokoh, otak pelaku di balik desain KTP Merah Putih ini. Sampai sekarang kami masih mencoba membolak-balikkan arsip lama. Barangkali ada salah satu di antara kita yang tahu, dan kami butuh disegerakan diberitahu. Wassalamu.[]

0 komentar:

Posting Komentar