"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Jumat, 20 Februari 2015

Cabok, dalam bahasa Indonesia berarti luka yang agak susah sembuhnya. Luka begini rupa kerap menimbulkan rasa gatal hingga si pengidap terpancing untuk terus menggaruknya. Imbasnya itu luka semakin menganga saja.

Diakui atau tidak, Aceh adalah negeri yang meucabok. Itu bisa ditandai dengan pelbagai fase perang yang dialaminya sepanjang peradaban yang ada. Tapi di antara perang yang pernah ada, perang saudara adalah sebenar-benar tragedi sebagai titik muasal timbulnya cabok yang dimaksud.

Prang Cumbok adalah salah satu contoh perang saudara yang menimbulkan cabok secara mencolok pada tubuh sejarah Aceh. Lantas ia berlanjut dengan pemberontakan pemberontakan DI/TII yang efeknya telah menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat Aceh yang berlebih. Sekian lama reda, luka Aceh berlanjut dengan terbunuhnya ribuan rakyat ketika konflik RI versus GAM berdenging ke hampir seluruh pelosok kampung dan dusun.

Status Daerah Operasi Militer dengan episode sambungan berupa status Darurat Militer yang ditabalkan Pemerintah Pusat untuk memadamkan api pemberontakan GAM yang menuntut cerai dari NKRI sebab ketidakadilan, pada akhirnya telah dimanfaatkan oleh para penghasut atawa tukang fitnah yang berefek pada hilangnya nyawa ribuan manusia. Cu'ak. Itulah sebutan orang-orang Aceh kepada tukang fitnah atau penghasut pada zaman konflik yang berdarah-darah itu. Ia bisa dikatakan pemeran antagonis terbaik (baca: terkutuk) yang dengan perannya hampir separuh korban pertikaian itu adalah orang-orang awam yang tak pernah tahu mereka punya masalah apa. Cu'ak, adalah kuasa jahat yang semakin memerihkan dan membuat luka tambah menganga.

Zaman berlanjut. Detak jarum jam terus berputar. Syukur, RI versus GAM redam pada akhirnya. Orang-orang yang memanggul senjata bergerilya di gunung-gunung berduyun turun. Tentara-tentara dari pusat dipulangkan kembali, walau sebagiannya tetap bertahan agar tidak kosong barak-barak kompi. Aceh lepas dari desing peluru. Damai mengada setelah sepasang tangan dari dua delegasi yang bertikai berjabat erat nun jauh di Finlandia sana. Inilah fase damai yang menjadi cita-cita seluruh negeri. Ia ditandai dengan terbukanya ruang bagi mantan gerilyawan unjuk gigi di bangku-bangku pemerintahan.

Lantas dengan tertatih Aceh beranjak bangun dan berjalan sambil menanggung luka atawa cabok yang belum sembuh benar akibat perang berkepanjangan. Luka yang kerap menimbulkan rasa gatal dan berpeluang dimanfaatkan oleh para penggaruk yang entah bagaimana terkutuknya punya keinginan agar Aceh tak boleh betul-betul sembuh. Harus selalu kambuh.

Para penggaruk dengan awas mengintai peluang-peluang gatal di sekitar cabok atau bahkan mencoba menciptakan cabok baru di sekujur tubuhnya. Yaitu cabok, yang kalau bisa, membuat sesama orang Aceh saling menuduh, saling membunuh.

Isu-isu yang saling bertentangan disebarkan. Segala yang terjadi di sini dibeberkan meriah dengan bangunan opini pro-kontra. Tak ayal, Aceh kerap menjadi titik fokus terbelalaknya mata dunia. Pemberlakuan syari'at Islam yang masih sarat dengan kepentingan politik, tajam ke bawah dan tumpul ke atas adalah peluang untuk menoreh cabok baru. Hukum cambuk yang sampai sekarang masih nampak hanya berlaku untuk para pendosa kelas teri dan belum mampu menyentuh kulit tukang korupsi kerap menjadi bahan olok-olok yang berefek pada timbulnya cek-cok. Bukan tidak mungkin bisa ia bisa digarap para pendengki sebagai biangnya cabok. 

Sampai di sini, cambuk adalah simbol dari sebuah fase perjalanan Aceh yang masih tertatih langkahnya itu. Sebuah fase yang rentan memunculkan tragedi-tragedi lain, yang bisa saja bentuknya lebih memilukan dari banyak cabok sebelumnya. Na'udzubillah...[]

0 komentar:

Posting Komentar