"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Sabtu, 15 Februari 2014

Ini zaman perang telah usai, saudara-saudara!!!
 
Saat rincong kita sarungkan kembali atas kesadaran sesadar-sadarnya. Untuk meminimalisasi kepiluan yatim piatu dan janda-janda. Saat hikayat Prang Sabi kita nyanyikan untuk membunuh sepi. Bukan untuk mengusir penjajah yang telah menjarah apa-apa yang telah kita pertaruhkan, kita jaga, kita hiro satoh si umu masa. Saat itulah kesadaran kita akan tergerus oleh luapan euforia damai. Hingga kita kembali bergumul dalam keinginan-keinginan dan hawa nafsu tak berkesudahan. Kita sekalian berhamburan dalam politik ekonomi yang rakus.
 
Masa lalu telah jauh. Tsunami telah pergi. Rentet M-16, SS-1 atau AK-47 sekalipun tinggal kenangan sebagai musik paling menyayat dalam orkestra kematian yang tiada dua. Kita harus ke depan menjemput apa-apa yang telah lama kita impikan. Kemerdekaan dalam bentuk lain barangkali. Kemerdekaan yang tak kita dapati di tanah lain selain Aceh.  
 
Ini zaman tak ada lagi perang, saudara-saudara!!!
 
Kupi-kupi dipanasi. Timphan dihidangkan bagi mereka yang pulang dari perang. Shalawat badar dilantunkan dari desa hingga lam kuta. Anak-anak bergembira. "Pat ujeuen njang hana pirang, pat prang njang hana reuda."
 
***
 
Geulanceng hadir tidak dalam rangka menawarkan solusi. Pada titik ini kami hadir sebagai wakilah saudara-saudara sekalian yang seiman. Yang masih yakin akan keberadaan Tuhan dan yakin akan suara rakyat. Suara-suara yang pernah dibungkam, disumpal bedil dan uang rupiah. Sekali lagi, kami hadir bukan sebagai anggota dewan yang konon penyambung lidah rakyat. Atau katakanlah parlemen jalanan.Y ang kami suarakan kebanyakan lahir dari lubuk hati saudara-saudara. Yang jauh lebih cerdas dalam membuat metafor-metafor meskipun dari realitas-realitas absurd sekali pun. Bahkan dalam situasi terjepit. 
 
Masyarakatlah yang pada akhirnya menjadi tempat kami bersumber dalam menelurkan ide-ide politis yang hampir tidak mungkin kami suarakan dalam masa asap dan kematian membubung di tanoh endatu.
 
Geulanceng hanya menarik kesimpulan atas perilaku kurang waras orang-orang di atas kita. Atas perilaku kita sendiri yang kadang di luar kendali. Semacam tabiat meuseunoh bu kulah, 'oh prang ka reuda.
 
Kami bukan moralis yang menebarkan ajaran-ajaran bagaimana menjaga perasaan orang lain. Sementara perasaan sendiri hancur lebur. Ajaran tentang bagaimana berupaya menjaga damai. Sementara, antar kita sendiri dipanas-panasi agar berkelahi. Tidak. Sekali lagi tidak.
 
Kami generasi Geulanceng. Yang beranjak besar di tengah genangan darah, tumpukan selonsong yang kalau dikilokan di pasar loak bisa tambah uang jajan. Yang berusaha menahan pedih di ulu hati karena setelah tsunami harus makan indomie atau supermie. (Sekarang tak begitu sering lagi. Paling cuma sekali-kali).

Geulanceng bukan spesies yang menebar kebencian dan pengacau ketertiban. Geulanceng masih taat aturan: memakai helm dalam perjalanan, tidak buang sampah sembarangan, tapi sesekali juga mengusili teman. Dan mungkin, satu-satunya pelanggaran adalah saat makan. Kami sering pakai tangan. Tidak pakai sendok.

Bivak Emperom, akhir tahun 2013.

0 komentar:

Posting Komentar