"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Minggu, 06 April 2014

Doel CP Allisah & Reza, mugee bajee Geulanceng, di kediamannya medio Sept. 2013

Kabar kepergianmu, Bang, adalah kabar buruk yang menghantam rasa semangat kami dalam berkarya. Ini benar adanya. Sebab, di zaman yang penuh polemik begini, kami sering tak mendapati peutuha seperti dirimu. Peutuha yang punya banyak waktu untuk sekadar mendengar curhatan pelaku seni pemula, atau malah untuk sekadar bercengkerama, atau sekadar berbagi cerita tentang pelbagai hal yang tidak kami dapati sama peutuha-peutuha lain sebelumnya.

Keakraban singkat yang terjalin denganmu, adalah suar bagi para pekarya muda sebagaimana pernah kami dapatkan pada beberapa kesempatan pertemuan. Dan keakraban itu terjalin alamiah saja.

Kau tak pernah menggurui kecuali kami selalu dapat menyerap banyak ilmu dari cerita-cerita pengalamanmu yang jika ditulis kembali bisa menghabiskan ribuan lembar halaman buku. Mulai dari cerita remeh temeh yang terlontar di Keudee Kupi Panamas, Ulee Kareng, sampai pada cerita-cerita serius seperti, pemetaan media cetak Aceh sekitar tahun-tahun di mana kami belum lahir di dunia, meriahnya Taman Budaya tempo doeloe, atau cerita bisnis batu cincin yang banyak digandrungi orang (termasuk dirimu) adalah hanya berdasar penyaluran hobi belaka, dan sangat jauh dari potensi ekonomi di belakangnya.

Tapi sejatinya, kau adalah penyair yang dengan kepekaan cara pandang terhadap pelbagai fakta telah melahirkan banyak puisi yang telah kami perbincangkan dalam beberapa kesempatan diskusi tak resmi. Memang, ada beberapa puisimu yang tidak kami sukai, yang untuk kemudian kami sepakat untuk 'mencemoohi'mu di mana pada kesempatan bertemu di lain waktu, kami sama-sama keder duluan oleh sikap akrabmu dalam bersanding bahu.

Kami ingat martabak traktiranmu di Keudee Kupi Panamas beberapa bulan lalu berikut kupi sikhan yang kita pesan barengan. Dan untuk dua ingatan terakhir ini kami tak sempat minta maaf serta tak sempat pula membalas traktiran sampai 2 April lewat kami terima pesan singkat tentang kepergianmu yang terasa begitu cepat. Lantas, beberapa saat kami membuang segala sibuk untuk mendoakanmu walau sebatas lafaz dari dalam hati.

Sepeninggalmu, kami tetap terus berkarya. Semangat yang terhantam oleh kabar kepergianmu cepat-cepat kami tata kembali, sebab kami cukup tahu kau bakal naik emosi jika para pemuda berhenti berkarya hanya gegara berita ajal yang lumrah terjadi bagi semua makhluk di dunia. Itu makanya, sampai detik ini juga kami terus saja memasang logika dan rasa peka baik-baik yang kelak melahirkan analogi-analogi karya dalam aneka media seni. Ini tentu saja seperti yang pernah kau sampaikan kepada kami, bahwa seni tidak hanya mesti tersalur dalam sebait puisi yang termuat di koran minggu yang keberadaan fisiknya kerap berakhir jadi alat pembungkus bada dan kemudian teronggok jadah dalam tong sampah.

Dari pembicaraanmu, kami mengerti semangat yang kau tularkan itu mesti dijaga dengan hasil karya yang berkelanjutan tanpa pernah mengenal kata bosan.

Untuk sekarang sampai esok nanti, sepeninggalmu yang masih terhitung bilangan hari, kami telah mengikrarkan diri bahwa apa yang kau sebutkan itu adalah serupa wasiat seorang ayah pada anaknya, guru pada muridnya, atau abang pada adiknya. Maka untuk menjaga itu wasiat, kami akan terus berkarya sampai usai usia kami di dunia.

Bang Doel, kau bukan orang besar. Kau adalah guru tak resmi yang telah kami absahkan sebagai seorang peutuha berjiwa besar yang dalam dunia literasi benar-benar punya nama besar. Selamat pulang.[]

0 komentar:

Posting Komentar