"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Senin, 18 Agustus 2014

Aceh punya riwayat perang dan damai (atau sebaliknya) yang datang silih berganti dalam setiap lembaran sejarah peradabannya. Sejak zaman kerajaan, masa kolonial, periode kemerdekaan, sampai memasuki zaman modern, Aceh punya periode perang-damai pada setiap zamannya. Paling mutakhir adalah damai antara Aceh dengan Jakarta (baca: GAM dengan Pemerintah Pusat) setelah konflik berkepanjangan, pada 15 Agustus, 9 tahun silam yang disepakati di Helsinski, Swedia. Kesepakatan Damai MoU Helsinski. Begitu dilakap banyak mulut dan berita. 

Semua orang sepakat, khususnya orang-orang Aceh sendiri, bahwa damai paling mutakhir yang terjalin itu tak ubahnya anugerah. Tak ayal gegap gempita menyambut perdamaian setelah lama dirundung perang adalah selebrasi wajar sebagai ungkapan syukur, suka cita, dan lain sebagainya. Tak ayal hari dan tanggal terjalinnya kesepakatan damai itu dicatat baik-baik dalam almanak penting sejarah, untuk tiap tahunnya dikenang kembali. Untuk tiap tahunnya direnung kembali apakah substansi damai yang diinginkan semua unsur masyarakat telah tercipta dengan baik atau tidak.

Di kampung-kampung, damai bagi orang-orang tua yang selamat hidup dari Operasi Jaring Merah dan Darurat Militer adalah bisa kembali mencari nafkah tanpa harus was-was dituduh pemberontak atau dituduh cu'ak ketika bekerja. Damai bagi anak-anak muda yang selamat hidup dari Operasi Jaring Merah dan Darurat Militer adalah bisa kembali berdalail bersama di meunasah-meunasah terjauh sampai tengah malam tiba. Atau bagi anak-anak muda yang rada-rada 'nakal', damai adalah bisa kembali menikmati asyiknya maen batee di panteue jaga tanpa harus cemas akan datangnya patroli tiba-tiba. Yang ujung-ujungnya dipaksa berenang dalam rawa-rawa penuh lumpur atau bahkan penuh kotoran manusia.

Intinya, damai bagi orang-orang yang trauma perang adalah (jika sudah tiba ajal) bisa meninggal wajar, di mana nyawa mereka dicabut lembut oleh malaikat pencabut nyawa. Bukan dicabut kasar oleh tentara yang bengisnya minta ampun.

Hari ini, 15 Agustus 2014 kita kenang kembali jabattangan dua delegasi kontra politik 9 tahun lalu itu. Kita tapaki kembali tentang damai yang telah terkecap ruhani dan jasmani dengan segenap hati. Benarkah damai telah benar-benar kita rasa? Damai dalam artian awam, barangkali memang telah dan sedang kita rasai sepenuh jiwa raga. Itu bisa dibuktikan dengan tidak ada lagi berita-berita koran seperti judul "3 GAM Tewas, 1 TNI Luka-luka", sejak 9 tahun lalu. Atau bisa juga dibuktikan dengan balapan liar tengah malam yang dilakukan oleh pemuda tanggung kampung di jejalan negara.

Namun, jika digali lagi arti damai secara mendalam. Harapan bahwa damai bisa mensejahtera-tentramkan hidup masyarakat luas terasa masih jauh panggang dari api. Ada banyak ketimpangan telah, sedang, dan mungkin akan terus terjadi. Substansi damai belum mencakup secara menyeluruh. Setelah damai dari konflik, Aceh belum damai dari segi ekonomi. Belum damai dari segi politik, pendidikan, kesehatan, atau bahkan dari segi moral dan kebudayaan. Di mana untuk mencapai kedamaian dari segi-segi tersebut dibutuhkan partisipasi ikhlas oleh seluruh rakyat Aceh sendiri. Mulai dari tukang becak, tukang jual obat, guru, teungku, akademisi, politisi, dan segala unsur masyarakat Aceh secara menyeluruh.

Sejatinya, segala jenis manusia yang ada di Aceh--tak peduli asalnya dari mana, bahasanya apa, tinggi bahunya berapa, cara berserapahnya bagaimana-- harus bisa mendamaikan diri sendiri dari segala sifat curang, culas, picik, picis, khianat, dan sifat-sifat terkutuk lainnya yang dapat mengganggu perdamaian secara utuh. Sebab, seperti ditulis T. Jacob (salah satu intelektual terbaik Aceh yang semasa hidupnya pernah menjadi Rektor dan Guru Besar Universitas Gajah Mada), bahwa; "Perang lahir dari otak manusia, dan situlah perang harus diakhiri dan perdamaian dimulai."[]  

0 komentar:

Posting Komentar