"Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."
Selasa, 31 Maret 2015

produk geulanceng

"Lagee crah meunan beukah" adalah pijakan pertama geulanceng dalam menelaah ulang apa yang telah, sedang dan akan berlansung di Aceh. Semata-mata menjadi penonton pada gelanggang yang menghelat aneka rupa drama politik, budaya dan kebiasaan Aceh, adalah sesuatu yang tak dapat diterima manakala drama dipentaskan tidak dalam bentuk interaktif.

Aceh harus dirangkumkan dalam bentuk medium ungkap apa pun. Bagi geulanceng, seni menemukan jalan sendiri dalam mengumpulkan kembali kepingan ingatan yang kian tertimbun berita-berita terbaru. Itu makanya geulanceng juga merangkum sebuah manifesto singkat; "Untuk hal-hal yang telah terpikirkan dan kemudian terlupakan, kami mengemasnya dalam desain-desain ingatan."

Ingatan adalah warisan yang akan kita serahkan kepada para penerus bangsa sebagai pusaka kelak. Ketika museum telah rata dengan tanah, artefak kian tertimbun lebih dalam ke perut bumi. Ingatan, demikian juga halnya "lupa" adalah harta. Dengannya anak cucu kita kelak merekonstruksi Aceh sesuai selera zaman. Bicara selera pembangunan, Aceh (demikian juga Indonesia) adalah laboratorium yang di dalamnya penguasa politik mengujicoba selera-selera mereka. Meskipun rakyat berulang kali muntah dan mual. Di sini, di Aceh tak ada namanya pembangunan partisipatoris yang kerap kita dengar di seminar-seminar paling menjemukan sekali pun.

geulanceng (kami tidak menggunakan huruf kapital meskipun awal kalimat untuk nama sekaligus logo kecuali menulisnya dengan cetak tebal) kami layarkan dalam samudera Aceh yang kadang berbadai, kadang tenang, sebagai pemungut dari sisa-sisa sejarah semacam ambisi politik, birahi kekuasaan, budaya kebinatangan, skenario perang yang tidak mungkin masuk dalam buku sejarah resmi atau museum milik pemerintah. geulanceng berdiri membentangkan layar "seni ungkap" yang kami hajatkan bisa bertahan dan mewartakan hingga kelak, apa yang kita rasakan hari ini. Kemudi politik yang tak bernavigasi, munculnya pahlawan-pahlawan kesiangan sampai konspirasi tingkat tinggi yang hendak menenggelamkan kembali Aceh ke dasar konflik.

Aceh yang kita wariskan ini tentu tak sama dengan apa yang pemerintah (baik pemerintah lokal atau pusat) idam-idamkan; Aceh yang selalu berjibaku dengan keresahan. Aceh yang kami wariskan adalah warta visual atau teks yang semoga mengabadi dalam ingatan; bahwa kita mesti belajar dari sejarah tentang kekeliruan, kebosanan perang, sifat geureuda yang dipraktikkan bermusim-musim setelah perang usai.

geulanceng sama sekali bukan media atau corong para politikus memuluskan hajat kekuasaannya. geulanceng hanyalah "blak-blakan Aceh dalam kaos"


0 komentar:

Posting Komentar